
Sektor peternakan dan pertanian di Provinsi Gorontalo kembali mencatatkan langkah maju melalui riset strategis terbaru. Sekelompok peneliti dari Jurusan Ilmu Peternakan Universitas Negeri Gorontalo (UNG)—yang terdiri dari Zulkifli A. Hadikum, Muhammad Mukhtar, La Ode Sahara, Syamsul Bahri, dan Sri Yenny Pateda—berhasil merumuskan strategi pengembangan integrasi antara peternakan sapi potong dan budidaya tanaman sorgum.
Studi mendalam yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ini mengusung konsep pertanian tanpa limbah atau crop-livestock integration (zero-waste) di Kabupaten Bone Bolango.
Potensi Daerah yang Menjanjikan di Tengah Tantangan MusimKabupaten Bone Bolango memiliki wilayah seluas kurang lebih 1.984,31 km² yang didominasi oleh kawasan pertanian, perkebunan, dan lahan kering. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi sapi potong di wilayah ini mencapai 18.647 ekor. Selain itu, wilayah ini juga didukung oleh ketersediaan lahan kering seluas 4.904,37 hektar yang sangat potensial untuk pengembangan budidaya sorgum.
Namun, pengembangan peternakan rakyat selama ini sering terkendala oleh ketergantungan pada pakan hijauan alami yang ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh musim. Saat musim kemarau tiba, produktivitas hijauan menurun drastis, yang berdampak pada terhambatnya pertumbuhan ternak dan membengkaknya biaya produksi.
Di sisi lain, analisis SWOT yang dilakukan tim peneliti mencatat bahwa meskipun sistem ini memiliki kekuatan internal yang sangat kuat—seperti pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk organik berkualitas bagi tanaman sorgum—usaha ini masih dihadapkan pada sejumlah ancaman eksternal. Tantangan utama yang harus dihadapi meliputi skala peternakan yang masih tradisional, keterbatasan teknologi, serta minimnya akses modal kerja bagi pelaku usaha kecil.
Strategi Diversifikasi: Memanfaatkan Kekuatan untuk Menghadapi TantanganUntuk mengurai berbagai persoalan tersebut, para peneliti menerapkan pendekatan kuantitatif melalui matriks Internal Strategic Factor Analysis Summary (IFAS), External Strategic Factor Analysis Summary (EFAS), serta diagram posisi Kartesius.
Berdasarkan analisis pemetaan tersebut, posisi strategi pengembangan integrasi ini berada di Kuadran II (Strategi Diversifikasi / Kombinasi ST) dengan titik koordinat (0,08; -0.14). Posisi ini mengindikasikan bahwa kekuatan internal sistem jauh lebih dominan daripada kelemahannya, namun di sisi lain, ancaman eksternal yang ada cukup signifikan. Oleh karena itu, strategi utama yang harus ditempuh adalah mengerahkan segala kekuatan internal untuk mengatasi dan mengantisipasi ancaman luar.
Solusi Konkret Menuju Agribisnis BerkelanjutanSebagai langkah nyata untuk mendongkrak kesejahteraan petani dan peternak, riset ini merekomendasikan beberapa arah kebijakan strategis yang dapat diterapkan di Bone Bolango, meliputi: Pengembangan Produk Zero-Waste:
Memaksimalkan siklus tertutup di mana biomassa sorgum diolah menjadi pakan bernutrisi tinggi (seperti silase) untuk sapi, sementara limbah peternakan diolah kembali menjadi pupuk organik penyubur tanaman sorgum.Fasilitas Pembiayaan Modal Kerja: Membuka akses permodalan yang lebih luas bagi peternak kecil agar mampu memperluas skala usaha dan mengadopsi teknologi modern. Peningkatan Kapasitas SDM: Melalui pelatihan intensif bagi kelompok petani dan peternak dalam hal penguasaan teknologi budidaya, pengolahan pakan, serta manajemen limbah yang baik.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan masyarakat, model integrasi sapi potong dan sorgum ini diharapkan mampu menjadi landasan kokoh bagi terwujudnya kemandirian pangan, efisiensi biaya produksi, serta pertumbuhan ekonomi pedesaan yang berkelanjutan di Kabupaten Bone Bolango.
Hari Tani Nasional 2023
Hari Lahir Universitas Negeri Gorontalo ke 60
Kegiatan Rapat Kerja "Penguatan dan Akselerasi Program Kerja Tahun 2020" Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo
Tema "Pengembangan Pertanian, Peternakan dan Perikanan Berkelanjutan dalam Mendukung Terwujudnya Kemandirian, Ketahanan Pangan Nasional dan Kesejahteraan Petani, Peternak dan Nelayan"